Minggu, 18 Okt 2026
SMASH SUMPAH PEMUDA, 305 Jagoan Pingpong Guncang Armuji Cup 2026Sinergi Ulama dan Polri: Gus Kikin Tegaskan PBNU Dukung Penuh Pemberantasan Narkoba Demi Masa Depan BangsaDarurat Retribusi Sampah MBG di Bangkalan: 134 Dapur Hasilkan 30 Ton Sampah Sehari, Cuma 20 yang BayarPerkuat Sinergi dengan Ulama, Kapolri Silaturahmi dengan Rais Aam PBNU di SurabayaPolisi Bersama Masyarakat: Polres Pasuruan Sambangi Rumah Duka Korban Karhutla TNBTSPerkuat Sinergi Ulama dan Umara, Kapolri Silaturahmi ke Ponpes Tebuireng dan Ziarah Makam Gus DurKawal Hak Pekerja, Kapolri Resmikan Desk Ketenagakerjaan Polri Tingkat Polres di JombangKapolri Ziarah ke Makam Marsinah dan Kunjungi Museum di Nganjuk
Home › Pemerintahan & Politik

Soroti Kepemimpinan Gibran, Ketum AMP : Satu Pemuda Solo Datang, Kompas Politik Nasional Berubah

Sabtu, 17 Oktober 2026 17:16 WIB

1 hari lalu29Redaksi LPN
Soroti Kepemimpinan Gibran, Ketum AMP : Satu Pemuda Solo Datang, Kompas Politik Nasional Berubah
FOTO : Karya Penulis Opini H. Holis Ketua Umum AMP

SURABAYA – Pernyataan H. Holis, Ketua Umum Aliansi Masyarakat Perantau (AMP), mengenai dinamika politik nasional belakangan ini dinilai sebagai potret redefinisi kekuatan generasi muda di panggung politik Indonesia. Pernyataan tersebut menyoroti hadirnya sosok Gibran Rakabuming Raka sebagai representasi runtuhnya stigma politik lama yang selama ini didominasi oleh kalangan elite senior.

"Baru satu pemuda dari Solo datang sudah bergetar Indonesia, apalagi 10 pemuda, udah puyeng para pembenci," ujar H. Holis dalam keterangannya.

Menurutnya, ungkapan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah refleksi atas disrupsi politik yang dibawa oleh generasi muda.

Mendobrak Dominasi Kemapanan Politik

Selama ini, kepemimpinan nasional kerap dianggap sebagai panggung eksklusif bagi figur senior dengan pengalaman birokrasi puluhan tahun. Namun, kehadiran Gibran dinilai berhasil mematahkan dominasi tersebut.

H. Holis menguraikan dua poin utama terkait fenomena ini :

• Disrupsi Kepemimpinan : Kehadiran representasi muda dari daerah di kancah nasional tidak sekadar mengekor sistem yang ada, melainkan membawa gaya kepemimpinan baru yang lebih dinamis.

• Transformasi Peta Politik : Efek "getaran" yang terjadi di tingkat nasional merupakan respons atas berubahnya cara komunikasi politik dan tuntutan kecepatan eksekusi kebijakan yang menjadi ciri khas generasi muda.

Menguji Kembali Metafora Bung Karno

Pernyataan AMP ini secara tidak langsung menggaungkan kembali pepatah legendaris Proklamator RI, Bung Karno : "Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia."

Menurut H. Holis, jika kehadiran satu figur muda saja sudah mampu mengubah konstelasi dan memicu perdebatan sengit di ruang publik, maka potensi lahirnya ribuan pemuda berani di lini eksekutif, legislatif, maupun pemberdayaan masyarakat akan membawa dampak yang jauh lebih besar bagi kemajuan bangsa.

Ia menambahkan bahwa kritik atau resistensi yang muncul dari para penentang sering kali bukan tertuju pada personalitas, melainkan pada kecemasan terhadap simbol kebangkitan generasi baru yang tidak lagi dapat didikte oleh gaya politik konvensional.

Representasi Suara Akar Rumput

Sebagai pimpinan organisasi yang menaungi kaum perantau, H. Holis menegaskan bahwa pandangan ini mewakili aspirasi akar rumput yang merindukan perubahan konkret. Masyarakat perantau, yang lekat dengan etos perjuangan dan adaptasi, melihat keberhasilan pemuda daerah menembus panggung nasional sebagai sebuah pembuktian.

"Ini adalah pesan eksplisit dari bawah. Sudah waktunya generasi muda diberikan ruang untuk memimpin, sementara generasi senior mengambil peran strategis untuk membimbing, bukan menjegal proses regenerasi tersebut," pungkasnya. (red)
Soroti Kepemimpinan GibranKetum AMP : Satu Pemuda Solo DatangKompas Politik Nasional Berubah

Berita Terkait