GARUDA RAJAI ASIA TENGGARA!!!, TAKDIR EMAS DI GBK, Indonesia Juara ASEAN Cup 2026
Rabu, 7 Oktober 2026 01:37 WIB

JAKARTA – Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menjadi saksi bisu runtuhnya kutukan. Lewat drama kolosal yang menguras emosi bangsa, Timnas Indonesia sukses menobatkan diri sebagai juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menumbangkan sang rival abadi, Thailand, lewat babak adu penalti yang berakhir 4-2 (agregat 2-2), Rabu malam.
Di bawah arahan John Herdman, skuad Garuda tidak hanya memenangkan trofi, tetapi juga menulis ulang sejarah lewat jalur paling terjal yang bisa dibayangkan.
Perjalanan menuju tangga juara dimulai di Grup A saat menjamu Singapura (25/9/2026). Tampil dominan, Indonesia mengunci kemenangan 2-0. Laga ini diwarnai momen berkelas saat kapten Kevin Diks menyerahkan jatah penalti kepada Ole Romeny untuk dikonversi menjadi gol, melengkapi gol pembuka dari Ragnar Oratmangoen. Meski Singapura bermain dengan 10 orang sejak akhir babak pertama, skor dua gol tanpa balas menjadi modal awal yang krusial.
Ujian mental sesungguhnya datang pada matchday kedua kontra Malaysia. Laga baru berjalan di babak pertama ketika sang regista, Thom Haye, diusir keluar lapangan akibat tekel keras yang dianggap berbahaya.
Bermain dengan 10 orang memaksa Herdman mengubah taktik. Indonesia dipaksa bertahan total dari gempuran Harimau Malaya. Beruntung, ketenangan Maarten Paes di bawah mistar gawang tampil bak pahlawan, memaksa laga berakhir imbang 0-0 dan menjaga asa Indonesia di papan klasemen.
KLASEMEN AKHIR GRUP A (Top 2)
1. INDONESIA | Poin: 7 | Gol: 11-2 | Selisih: +9 Lolos Produktivitas
2. MALAYSIA | Poin: 7 | Gol: 9-0
Matchday pamungkas (1/10/2026) berubah menjadi arena pacuan roket. Di tempat lain, Malaysia mengamuk dengan membantai Singapura 6-0. Sadar posisi mereka terancam gagal ke final karena kalah selisih gol, Indonesia yang sedang unggul 7-2 atas Bangladesh langsung menaikkan intensitas serangan di menit-menit akhir.
Crucial moment terjadi di masa injury time. Skuad Garuda mengamuk dan menambah dua gol dramatis lewat kaki Kevin Diks dan Mitchell Baker. Skor berakhir 9-2. Indonesia dan Malaysia sama-sama mengoleksi 7 poin dengan selisih gol +9, namun Indonesia berhak ke final karena unggul produktivitas gol (11 gol berbanding 9 gol).
"Kami tidak pernah berhenti percaya, bahkan saat kami bermain dengan sepuluh orang atau tertinggal di babak tambahan waktu. Ini adalah kemenangan mentalitas." John Herdman, Pelatih Kepala Timnas Indonesia.
Partai puncak kontra Thailand menghadirkan tensi tak tertahankan. Kebuntuan pecah pada menit ke-84 lewat eksekusi free-kick mematikan Dean James. SUGBK bergemuruh, trofi seolah sudah di depan mata. Namun, euforia itu runtuh hanya tiga menit berselang setelah pemain pengganti Thailand, Iklas Sanron, menyamakan skor menjadi 1-1. Laga berlanjut ke extra time.
Di babak tambahan, plot twist kembali terjadi. Thailand yang justru bermain dengan 10 orang mengejutkan publik Jakarta lewat gol Peeradol Chamratsamee pada menit ke-111. Tertinggal 1-2 di sisa waktu kritis, mental juara Indonesia berbicara. Menit ke-116, memanfaatkan skema bola mati, Elkan Baggott melompat tinggi untuk menyundul bola masuk ke gawang. Skor 2-2, pemenang harus ditentukan lewat tos-tosan.
Di babak adu penalti, mentalitas baja punggawa Garuda menjadi pembeda. Empat eksekutor Indonesia—Kevin Diks, Elkan Baggott, Dean James, dan Shayne Pattynama—menjalankan tugasnya dengan dingin tanpa cela.
Sebaliknya, tekanan SUGBK meruntuhkan nyali Thailand. Tendangan kapten Sarach Yooyen membentur tiang, sebelum akhirnya Emil Audero terbang menepis sepakan Nattapong Sayriya. Skor penalti 4-2 mengunci kemenangan Indonesia.
Malam itu, langit Jakarta menyala. Skuad Garuda resmi berdiri di puncak tertinggi sepak bola Asia Tenggara. Selamat, Indonesia. (red)

